Obrolan

Bau Limbah Masih Tercium, PT RUM Di Datangi Warga

Jumat, 02 Maret 2018 : 12.42
Pengurus LUIS dipimpin Edi Lukito ditemui Kepala HRD PT RUM, Haryo (Istimewa)
SUKOHARJO - Hingga kini meski PT Rayon Utama Makmur (RUM) telah menyatakan menghentikan sementara operasional mesin produksinya, namun warga sekitar pabrik belum bernafas dengan tenang. Melalui unggahan grup Media Sosial (medsos) mereka menyebut masih mencium bau tak sedap yang diduga sumbernya dari PT RUM.

Bahkan dikabarkan ada 9 truk tangki masuk membawa cairan kimia bahan baku produksi. Merespon keresahan tersebut beberapa perwakilan kelompok masyarakat kemudian mendatangi pabrik yang berlokasi di Desa Plesan, Kecamatan Nguter ini

Informasi yang diperoleh Jum'at (2/3/2018) sedikitnya sudah ada dua kelompok perwakilan masyarakat bergiliran datang meninjau yakni perwakilan perangkat desa sekitar pabrik dan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).

Humas LUIS, Endro Sudarsono saat dikonfirmasi membenarkan, bahwa pihaknya telah melakukan klarifikasi dan survey langsung ke PT RUM

"Tujuan klarifikasi pada Selasa, 27 Februari 2018 sekira pukul 17.00 WIB kemaren untuk mencari tahu secara langsung tentang informasi adanya 9 truk tangki yang masuk ke pabrik. Apa isi dan kegunaannya," kata Endro

Dari klarifikasi didapat jawaban, material atau isi yang dibawa 9 truk tangki sebagian merupakan cairan pembersih alat atau mesin pabrik. Sedang sebagian lainnya merupakan bahan produksi, yang sudah terlanjur dipesan jauh hari sebelum adanya keputusan penghentian sementara operaaional.

Di temui Kepala HRD PT RUM, Haryo, kedatangan pengurus LUIS yang dipimpin langsung ketuanya, Edi Lukito mendapat jawaban pihak pabrik tidak mengetahui jika masuknya 9 truk tangki berisi Soda Kostik dan Asam Sulfat tersebut telah memancing reaksi warga yang masih trauma dengan bau limbah

Namun demikian, PT RUM memastikan bahwa mesin produksi sudah berhenti, hanya saja disebutkan masih ada sisa limbah cair dalam penampungan limbah yang masih mengeluarkan bau menyengat jika terkena tiupan angin kencang

"Dari pertemuan itu, kami juga mendapat laporan bahwa beberapa karyawan masih trauma, dan tidak masuk kerja. Hal ini oleh pihak pabrik dirasakan berdampak pada lambatnya proses pembersihan sisa produksi pada alat atau mesin. Jika alat ini tidak dibersihkan maka bisa rusak dan berkarat," kata Endro mengutip pernyataan manajemen PT RUM

Setelah berkeliling ke beberapa kolam penampung limbah serta  memastikan pabrik tak lagi beroperasi, LUIS menyarankan agar keresahan masyarakat tidak berkepanjangan, terkait aktivitas pabrik selama pembenahan dan pembersihan mesin dan pipa sebaiknya manajemen PT RUM mengkomunikasikan ke warga, pemerintah dan ormas sehingga masyarakat paham dan tidak bersepekulasi

"Kami juga meminta PT RUM  segera mengurangi hingga menghilangkan bau yang masih terasa pasca penghentian produksi," tandasnya.

Sebelumnya, HRD PT RUM Haryo menyampaikan, pihaknya terbuka kepada siapapun jika masih belum yakin apakah pabrik mematuhi teguran dari pemerintah daerah untuk sementara berhenti beroperasi atau tidak .

"Silahkan datang ke pabrik untuk melihat langsung di dalam. Kami terbuka. Yang jelas tujuan berdirinya pabrik bukan untuk menyengsarakan masyarakat," pungkasnya.(NSN)

0 komentar :

Berikan Komentar Anda

Copyright © 2020 Peradisurakarta.com All Rights Reserved